Sabtu, Juni 20

Dum Laga Ke Haisha (2015)


Gue rekomendasikan film ini untuk lu yang baca..
Simple story and wow.. 
hahah..
Keren deh pokonya.. >_<


PLOT: Prem yang bekerja di toko kaset milik ayahnya harus menerima paksaan dari keluarganya untuk menikah dengan Sandhya Verma, seorang gadis gemuk yang semumuran dengannya. Sandhya yang berpendidikan dan bercita-cita tinggi menjadi guru, mencoba membuka hatinya untuk Prem yang tidak pernah lulus SMA. Sementara Prem, yang sama sekali tidak mencintai gadis gemuk seperti Sandhya, menganggap jika ia tidak pantas untuk Sandhya. Pernikahan karena dijodohkan ini membuat hubungan mereka berada dalam masalah yang lebih besar sekaligus beban yang besar bagi diri Prem.

REVIEW:

Kisah pernikahan ala siti nurbaya alias pernikahan karena dijodohkan oleh orang tua bukan lagi menjadi kisah cinta yang non-konfensional. Sudah banyak film yang menggunakan formula seperti ini. Begitu juga dengan film terbaru produksi studio Yash Raj Film yang kali ini memberi kepercayaan besar kepada Sharat Katariya sebagai writer sekaligus director untuk menghadirkan sebuah kisah cinta ala siti nurbaya versi laki-laki dalam Dum Laga Ke Haisha.

Dum Laga Ke Haisha ditulis dengan naskah cerita yang sangat sederhana. Seakan-akan mereka yang telah terbiasa menikmati kisah seperti ini, sudah mengetahui bagaimana Katariya akan mengakhiri tragedi cinta antara Pram dan Sandhya. Namun dibalik semua kepastian yang bisa ditebak, Katariya melakukan pekerjaannya dengan baik. Sebagai writer, ia menyulam cerita secara terperinci. Sebagai Director, ia mengeksekusinya dengan sangat baik berkat dukungan sinematografi yang menawan arahan Manu Anand dan musik latar persembahan Anu Malik yang bersenandung indah disepanjang durasinya.

Dibalik sederhananya cerita, kedua bintang utamanya berakting dengan sangat cemerlang. Ayushmann Khurrana dan Bhumi Pednekar berhasil menciptakan kedua karakter yang benar-benar hidup. khususnya kepada Bhumi Pednekar sebagai gadis/istri gemuk yang terbebani dengan ukuran tubuhnya patut mendapatkan apresiasi tinggi atas debut aktingnya yang menawan.

Banyak hal menarik lainnya yang bisa didapatkan dari film yang berdurasi 110 menit ini. Ditetapkan menggunakan setting waktu tahun 1990-an, Dum Laga Ke Haisha menyajikan properti-properti jadul yang cukup menyita perhatian penontonnya. Sungguh mengingatkan kenangan masa lalu, melihat tokoh utama memutar Kaset Tape dengan mesin pemutar Tape jaman dulu. Dibuka dengan alunan lagu “Tu” dan disenandungkan oleh suara merdu Kumar Sanu kemudian disajikan dengan sinematografi yang menawan, Dum Laga Ke Haisha membuka durasi dengan sangat baik. Pada akhirnya, film ini keluar dengan kesederhanaan yang tetap terlihat indah dan menyentuh sebagai drama cinta yang cukup menggugah hati.

Sabtu, April 4

Belajar bahasa dengan menggabungkan 2 subtitle pada Film



Harus ada KMPlayer ya...

Pada gambar di atas, secara default kamu hanya menemui subtitle dalam satu bahasa saja, yaitu bahasa Indonesia. Kamu dapat menambahkan subtitle bahasa Inggris yang telah kamu download dengan cara:

1. Klik kanan layar KMPlayer dan kamu akan menemui pop-up seperti pada gambar di bawah ini.



Subtitles - Subtitle Languages - 2nd Subtitle - Load Subtitle


Nanti akan kalian melihat 2 subtitle dan 1 film yang akan kalian tonton, contohnya seperti pada gambar di bawah ini.


Untuk mengatur warna font, posisi font dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan subtitle bisa kalian atur sendiri di :

Options - Preferences




Mudah bukan, pada awalnya kalian memang akan merasa tidak nyaman dan kebingungan melihat tampilan 2 subtitle bahasa pada film yang sedang ditonton. Mungkin karena belum terbiasa, namun seiring berjalannya waktu nanti bakal terbiasa kok dan malah bikin ketagihan. Halah.

Jumat, April 3

Mari ikuti jejak Soe Hok Gie untuk belajar menjadi Pemuda yang berkualitas

Sebagai anak muda Indonesia, kamu sering kehilangan arah nggak sih saat ingin menentukan siapa yang pantas jadi panutan hidup? Tokoh-tokoh besar yang tampak bijaksana, ternyata jadi tersangka kasus korupsi. Mereka yang muda dan banyak berkeliaran di layar kaca, bercerita soal cinta yang tidak membumi. Tidak adakah pemuda Indonesia yang bisa diteladani?

Eits, jangan salah. Kita pernah punya anak muda berkualitas yang layak dijadikan role model. Dia adalah pria keturunan Cina pribumi, bernama Soe Hok Gie. Walau sudah kembali ke pangkuan Tuhan pada tahun 1969, semua yang pernah dia lakukan masih sangat relevan untuk kita contoh hari ini. Dari Gie kamu bisa belajar tentang hidup yang sebenarnya. Dia punya otak, nyali, idealisme juga kisah cinta yang tak kalah manis.

1. Gie Mengambil Jurusan Sesuai Renjana (passion) yang Gak Mainstream

                                                  Mengambil jurusan sastra di UI
Kamu baru mau kuliah? Mau ambil jurusan apa, hayo? Apakah kamu termasuk anak muda yang percaya jika jurusan yang bisa memberikan kehidupan yang baik itu hanya ada 3 di muka bumi: Kedokteran, Teknik, Hukum? Gie akan memberikan kamu pandangan baru: kamu bisa berhasil jika mengikuti panggilan hati untuk menentukan jurusan.

Gie adalah mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah. Bahkan sampai saat ini mahasiswa Jurusan Sastra masih sering dicemooh karena dianggap akan sulit mencari pekerjaan, bukan? Kecintaan Gie pada sastra tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keluarganya. Ayahnya, Soe Li Pit adalah seorang novelis. Ia dan kakaknya (budayawan, filsuf, dan dosen Australian National University Arief Budiman) banyak menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan umum sejak mereka masih kecil.

Tjerita Dari Blora, Pramoedya

Semasa SMP, Gie sudah membaca buku langka karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Cerita Dari Blora”. Masuk ke SMA, Gie memilih untuk konsisten menekuni jalur sastra. Ia masuk ke SMA Kolese Kanisius dengan mengambil Jurusan Sastra. Tidak peduli kakaknya masuk ke Jurusan Ilmu Alam yang lebih bergengsi.

Keberhasilan Gie menyuarakan opininya lewat berbagai esai kritis jadi bukti pentingnya menuruti panggilan hatimu. Gak usah dengerin apa kata orang kalau mereka bilang pilihan jurusanmu nggak akan bisa menghidupimu kelak. Mutiara akan tetap jadi mutiara kok, dimanapun dia diletakkan.

2. Selalu Menyatakan Keberpihakan

Terus menunjukkan keberpihakan

Gie tidak pernah memilih hidup di arena abu-abu. Ia selalu menyatakan keberpihakannya dalam setiap isu. Bahkan waktu SMP dia pernah tidak naik kelas karena berani mengungkapkan pendapatnya pada guru. Dihadapkan pada otoritas, Gie tidak menyerah. Karena merasa benar, ia memilih untuk pindah sekolah.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

Kutipan kata-kata Gie diatas memang benar-benar jadi pedomannya selama hidup. Semasa kuliah Gie jadi aktivis yang sangat vokal untuk menentang upaya hegemoni Orde Lama. Dia menggalakkan forum diskusi dan klub film di UI. Gie pun memilih untuk menulis bagi surat kabar yang beraliran kiri.

Pandangan Gie terhadap otoritas guru

Keberanian Gie membuatnya jadi salah satu aktivis paling dicari pada masa pemerintahan Soekarno. Gie dianggap terlalu berani melawan penguasa. Bahkan ibu dan kakaknya tidak bisa memahami mengapa Gie harus segetol itu menunjukkan sikapnya yang berseberangan. Beberapa rekannya juga menjauh, karena enggan dianggap sama vokalnya. Gie tidak gentar menghadapi semua itu.

Soe Hok Gie dengan gagah menunjukkan keberaniannya. Tidak peduli apapun yang harus dihadapi, ia hanya enggan apatis. Baginya menyatakan keberpihakan adalah bentuk kebebasan hakiki dari penjajahan. Dalam hidup, seseorang memang harus memilih. Atau tidak akan menjadi apa-apa.

Aktivis mahasiswa yang vokal

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.“


3. Mencintai Indonesia Dengan Mengakrabi Setiap Jengkal Tanahnya

Gie (kanan), Herman Lantang dan Idhan Lubis

Gie jadi salah satu pendiri Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia. Salah satu kegiatan utama Mapala UI adalah naik gunung. Berbeda dari yang biasa dilakukan anak-anak muda sekarang, naik gunung buat foto-foto karena demam Film5 cm — naik gunung di jaman Gie itu ibarat perang.

Belum ada trek yang jelas bagi pendaki. Tim pendakian harus memotong semak belukar untuk membuka jalur. Tidak ada keril yang ringan seperti sekarang. Mereka harus membawa ransel rangka alumunium bekas pengangkut barang tentara yang kasar dan berat. Alat-alat keselamatan seperti kantung tidur, webbing dan pakaian berlapis polar juga belum ditemukan.

Dalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan dan kita kenal sebagai “Catatan Harian Seorang Demonstran” — Gie mengutip perkataan penyair Amerika Walt Whitman untuk menjelaskan mengapa ia dan kawan-kawannya perlu naik gunung:

“Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”

Gie di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango

Gie memang sangat mencintai alam. Dia bahkan khusus menulis sajak bagi Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango. Bagi Gie, tidak akan ada kecintaan yang timbul tanpa pernah menginjakkan kaki di atasnya. Slogan-slogan manis tentang cinta tanah air adalah omong kosong baginya. Kata Gie,



“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Kamu yang udah traveling keliling Eropa tapi belum pernah menginjakkan kaki di Mahameru, malu gak kalau menilik apa yang sudah dilakukan Gie?

4. Elegan Menghadapi Patah Hati

Penggambaran kisah cinta Gie di film

Walau terkesan gahar sebagai aktivis yang keras menyuarakan kepentingan rakyat, ternyata Gie punya sisi manis yang tetap dekat dengan sastra. Tidak hanya pandai menulis esai opini, ia pun pandai menyusun rima dalam kata-kata. Yup, siapa sangka pria se-lakik Gie ternyata adalah seorang penyair?

Puisinya, “Sebuah Tanya” barangkali jadi salah satu potongan sajak yang paling dikenal oleh anak muda masa kini:

“apakah kau masih akan berkata



kudengar derap jantungmu



kita begitu berbeda dalam semua


kecuali dalam cinta”

Masih kurang romantis? Ayo kita baca puisi Gie yang ditulis pada tahun 1969:


“Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku



Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya



Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu


…… kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa-apa”


Ker, “cinta lama” Soe Hok Gie


Puisi tersebut konon ditulis Gie pasca galau karena bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaan pada Ker (Kartini Sjahrir). Kisah cinta Gie memang agak misterius. Dia dikenal banyak memiliki teman dekat wanita, namun hanya Ker lah yang membuat Gie bimbang. Pada akhirnya Gie tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Ker. Teman dekat Gie, Ciil (Sjahrir) yang justru menikah dengan Ker.

Gie menunjukkan bahwa tidak semua perasaan harus diungkapkan ke publik. Ia memilih menyimpan rasa yang paling privat itu untuk diri sendiri dengan menuangkannya lewat sajak.

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan”

Pernah merasakan cinta yang dalam dan tulus sudah cukup bagi Gie. Tidak bisa mendapatkan balasan yang diharapkan juga dihadapinya dengan gagah dan tidak menye-menye. Kalau Gie masih hidup sampai era Twitter, kamu tidak akan mendapati tweet galau dari akunnya. Alih-alih nge-tweet galau, patah hati justru bisa diraciknya jadi kata-kata puitis nan manis.

5. Mati Terhormat Dengan Indah

Semeru, tempat Gie wafat

Entah ada hubungannya atau tidak dengan kematian dramatisnya di Gunung Semeru, semasa hidup Gie memang dikenal ingin mati muda. Dalam “Catatan Seorang Demonstran” Gie menunjukkan bahwa ia sepakat dengan perkataan seorang filsuf Yunani:

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”

Gie meninggal saat mendaki puncak Mahameru, puncak tertinggi Pulau Jawa tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 tahun. Kematian Gie hingga saat ini belum bisa ditentukan secara pasti penyebabnya.

Memorial Soe Hok Gie di Mahameru

Ada yang mengatakan bahwa Gie meninggal karena menghirup zat beracun dari kawah Jonggring Saloka, Semeru. Ada pula yang berpendapat bahwa kematian Gie memang telah direncanakan. Agar ia tak lagi merecoki pemerintahan Soekarno dengan kritik pedasnya.

Gie memang sudah pergi. Namun semangat dan perjuangannya akan terus terkenang di hati. Gie adalah bukti bahwa Indonesia pernah punya anak muda yang gigih memperjuangkan keyakinan dan mimpi. Dibalik carut marut negeri, ibu pertiwi pernah melahirkan pria sebaik Soe Hok Gie. Bukan tak mungkin Gie-Gie lain akan segera lahir kembali, dari kita.

“Selamat jalan, Gie. Cita-citamu untuk mati muda telah tercapai. Berbahagialah, dalam ketiadaanmu.”

Artikel ini ditulis dengan menggunakan buku "Catatan Seorang Demonstran""Soe Hok Gie: Sekali Lagi" sebagai referensi.

Rabu, April 1

Generasi Hancur Penerus Bangsa Zaman Modern di Indonesia

INTERMEZO DULU


Pernah mendengar perkataan bung karno yang ini? "Beri Aku 1000 Orang Tua, Niscaya Akan Kucabut Semeru Dari Akarnya, Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya Akan Kuguncang Dunia". Mungkin jika bung Karno Melihat pemuda saat ini, akan berbeda perkataan beliau itu. Sadar Atau tidak sadar generasi saat ini, adalah generasi yang akan memimpin bangsa kedepannya. Sadar atau tidak sadar kelakuan generasi saat ini, merupakan cermin bangsa masa depan. Buram atau cemerlangnya bangsa kedepan, dapat dilihat dari buram atau tidaknya generasi sekarang. Dan sayangnya ane menyimpulkan generasi saat ini dominan buramnya. Mari kita lihat apa saja itu.


Generasi Narkoba 


Ane Nyimpulin Seperti ini setalah mendapatkan data yang mengerikan gan . 85% pengguna narkoba di Indoensia adalah Generasi Muda atau setara 6,5 juta orang gan . Selain itu juga sekitar 50% nya itu berstatus mahasiswa atau berstatus sarjana, Padahal mereka berpendidikan . Ane udah ga ngerti lagi ama mereka gan .

Generasi Permissive


Ane mencoaba mengggunakan bahas yang cukup sopan, yaitu Generasi Permissive. Generasi ini maksud sederhanaya yaitu sudah tau salah tapi tetap saja di biarkan yang parah malah ikutan (ane lebih menyorot pada pergaulan bebas). 
Tau gak gan pergaulan bebas di Indonesia udah akut banget, contohnya di bali 25 % kelas 2 SMA pernah berhubungan Sex , Terus juga fenomena hamil diluar nikah sudah banyak terjadi. Masih mending di nikahin, ini malah banyak yang Aborsi . Bahkan yang parahnya, sudah lebih dari 2,5 juta janin yang tidak bersalah meregang nyawa , angka ini jauh lebih besar dari pada Korban perang dunia II yaitu 400 ribu koran.
Free Sex nya udah parah. Selain itu eh malah ada yang namanya Pekaan Kondom Nasional . apaan lagi itu .
Fenomena yang ane sebutin tadi, Hampir Di anggap Wajar oleh generasi kita. Ane bilang hampir, karena masih ada yang cukup cerdas menyadari bahwa hal itu salah 

Generasi instant 


Kenapa generasi instan gan?. Sederhana gan. Generasi kita bawaannya pengen sukses tapi males kerja keras gan . Makanya banyak banget kan dari kita-kita kena penipuan. Semisal bisa ngegandain uang. Terus juga investasi bodong merajalela. Inget gan kata bang Napi KEJAHATAN DI LAKUKAN BUKAN HANYA KARENA NIAT PELAKUNYA TAPI JUGA KARENA KESEMPATAN. Nah Mereka-merka itu memanfaatkan generasi instan kita ini .

Generasi Hedonis 


Genererasi muda sekarang hedonis? setujukah agan?. Begini keadaaanya,
Sadar atau tidak sekarang menjamur tempat-tempat hiburan malam. Mereka menjamur karena genersai kita sukanya hura-hura. 
Sadar atau tidak kita lagi di invasi produk-produk asing, mereka sadar bangsa kita banyak penduduknya,jadi potensi pasarnya cukup besar dan di perparah bangsa kita budanyanya konsumsumen, bukan produsen .
Kurang hedoan apa generasi ini, membeli hal yang tidak perlu, mengikuti mode yang ga jelas, tanpa tau itu sebenarnya apa. Makanya banyak yang rela menjadi PSK agar dapat uang banyak dan bisa FOYA-FOYA .

Generasi Ga Logis 


Kenapa ane bilang begini, Coba liat aja gan. Banyak banget yang mati bunuh diri gara-gara ditolak atau putus cinta (maaf bukannya kurang sopan, tapi masih belum tau aja alasanya). Padahal mungkin kita belum mengerti cinta itu apa . Selain itu juga banyak yang percaya sama dukun sampai paranormal banyak yang mendadak jadi artis .
Tambah lagi nih gan, banyak dari generasi ini itu percaya ramalan bintang. kalau agan cek, itu ramalan bintang pasti bilangnya general banget, jadi kalau pun bener ya emang karena dia ngeramal secara general .

Generasi Vandalis 



Kalau yang ini pasti ga usah di tanyain lagi gan. Tiap hari pasti ada berita tawuran di indonesia, tawuran pelajar lah, mahasiswa la, waraga anatar kampung lah. yang parah. Sampai Anggota Dewan juga memepertontonkan perkelahian di parlemen . 
Mahasiswa yang Demo, niatnya membela rakyat eh tappi sendirinya malah mengganggu rakyat dengan bakar ban lah di jalan, blokir jalan. Bukan nya tidak boleh, hanya saja itu udah melangggar aturan. Kalau kita mau benahi, lakukan dengan cara yang benar 




Bukannya ane bersikap pesimis atau sok menggurui. Tulisan ini timbul akibat keresahan dan kecintaan terhadap indonesia. Semoga dengan tulisan ini kita semua bergerak dan tersadar. Dan Mulai Bergerak untuk indonesia yang lebih baik.
Kalau Kata Anies Baswedan
Indonesia memiliki banyak masalah bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena orang-orang baik memilih diam dan mendiamkan
Yuk turun Tangan Demi Indoensia yang lebih baik.

Sabtu, Maret 21

By Najwa Shihab


Tren itu seperti naik kuda
lebih enak mengikuti saja
kemana pun
arah larinya

Memang mudah
menyusuri arus
kita tinggal ikut
kemana angin berhembus

Itulah syarat sahnya
menjadi trendi
agar tampak dandy
dan serba terkini

Kreatifitas bukan
hal yang utama
ikuti saja
apa yang sudah ada

Inilah ciri orang kebanyakan
tak mau pusing
dengan ide-ide
pembaharuan

Tapi tren pun
mengandung bahaya
mengikutinya membuat
semua tampak serupa

Menjadi pribadi otentik
memang susah 
merawat jati diri
semakin tak mudah

Karena itu
jadilah seorang pembaharu
biar orang lain
yang ikut meniru

Daripada terus mengikuti
tren tanpa henti
sebab hidup bisa habis
tanpa diisi

Selasa, Maret 17

Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin by Bu Anni

Karya : Bu Anni



Booming Facebook, Booming Reuni

Ini semua gara-gara Facebook. Hebat betul media sosial yang satu ini mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah, teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor, sanak saudara,yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja, sudah ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. Ini benar-benar sebuah keajaban dunia maya !

Booming Facebook, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni, sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu pada teman di masa lalu. Beragam undangan reunipun berdatangan, dari reuni SD hingga reuni kantor. Sayangnya tidak seluruh undangan reuni itu bisa kita hadiri karena berbagai alasan.

Selalu ada perasaan yang sama manakala kita menghadiri acara reuni : perasaan bahagia ketika rindu terobati ,saat akhirnya dapat berjumpa lagi dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Rasa haru biru yang menyelinapi hati saat menyalami Bapak dan Ibu Guru yang sudah sepuh, juga suasana nostalgia yang begitu melenakan, yang membuat kita tak ingat umur, terlupa sejenak bahwa kita kini sudah menjadi orang tua. Obrolan dan canda tawa yang terjalin, sangat menghanyutkan kita ke masa muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..

Tak menghadiri reuni sebab miskin

Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili saya di Bandung, saya terlibat obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan sehari-harinya adalah berjualan bensin eceran di sebuah kios kecil di pinggir jalan raya di kota Bandung. Sebut saja nama kerabatku itu Fahmi.

Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Fahmi tidak bisa membuat keluarganya (istri dan ketiga anaknya ) hidup nyaman berkecukupan secara materi. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama tidak bertemu.

Kebetulan saya dan Fahmi satu sekolah saat di SD dulu. Kepada Fahmi saya menyampaikan rencana acara reuni akbar SD untuk semua angkatan yang akan dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Fahmi hanya terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian sayalah yang tercenung cukup lama.

” Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku miskin “.

Kata – kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih dan sedih. Saya terhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan kalimatnya.

“ Aku malu pada teman-teman yang sudah kaya dan sukses “

“ Apa hubungannya reuni dengan kaya- miskin ? ayolah datang ! yang penting silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah kita ini kaya atau miskin ! “, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.

Fahmi hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. “ Aku nggak akan datang “.Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak dilanjutkan lagi sampai saya dan suami pamit pulang.

Pertanyaan - pertanyaan yang membuat rikuh …

Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? apakah pertanyaan seputar : sekarang tinggal dimana ? sudah married ? anaknya sudah berapa ?. Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan. Namun bahkan pertanyaan sesederhana itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang yang (mohon maaf) belum mendapatkan jodohnya sementara usia semakin menua umpamanya, atau bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan padahal sudah bertahun-tahun menikah. Jadi jangankan pertanyaan soal kaya atau miskin ( yang mana pertanyaan seperti ini mustahil dilontarkan dalam keadaan serius), perkara sudah menikah dan memiliki keturunan saja sudah cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa malu dan minder.

Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal pendidikan, soal pekerjaan, soal karir, dsb. Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab pendidikan dan pekerjaannya tak terlampau bergengsi, tak terlampau berkelas dan menghasilkan income yang besar untuk dibanggakan. Beberapa teman lagi memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

Kadang Reuni Memang menjadi Ajang Pamer
( Ukuran Kesuksesan Kaum Hedonis : HARTA)


Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati teman-teman saya. Lagi pula semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari kesan hedonik.

Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan sangat megah di hotel-hotel berbintang, dengan acara dan sajian makanan minuman serba mewah dan melimpah, lebih mirip sebuah pesta ketimbang reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah sukses, sudah kaya raya, atau sudah menjadi pejabat atau tokoh ternama di negeri ini. Terlihat dari penampilan mereka yang serba gemerlap , juga terlihat dari deretan mobil mewah yang terparkir di pelataran hotel, dengan petugas keamanan dan kepolisian berseliweran di sekitar area reuni.

Apakah mereka teman-teman kita ? ya tentu saja, mereka adalah teman-teman kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang sukses secara duniawi. Perkara mereka telah terlihat bak penduduk negeri langit, jangan lupa sudah berapa masa kita tak berjumpa dengan mereka ? jangan lupa juga, waktu yang telah lama terlampaui membuat manusia berubah. Tak hanya fisiknya, namun sifat dan karakternya pun bisa saja berganti.

Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman karib kita begitu membanggakan penampilannya yang serba wah, menceritakan dengan penuh semangat perawatan wajah yang dia jalani, tatkala teman-teman yang lain memuji kemulusan kulitnya. Menceritakan dengan sumringah perjalanan-perjalanan bisnisnya ke kota-kota besar dunia , seraya mempermainkan tali tas Hermesnya yang berharga puluhan juta. Jika sudah begini, tak ada gunanya kita membanggakan anak kita yang hafal 5 juz Al Quran, atau juara Olimpiade Fisika, atau rasa syukur karena anak kita diterima di perguruan tinggi negeri. Tak ada manfaatnya, karena sama sekali bukan itu ukuran kesuksesan kaum hedonik.

Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung

Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses ? bagaimana dengan teman-teman yang bekerja mencari nafkah membanting tulang menjual bensin eceran dan tambal ban seperti Fahmi ? yang tinggal di rumah kontrakan terselip di pelosok gang sempit yang kumuh dan pengap ? yang hanya memiliki kendaraan sepeda motor cicilan ?. Apakah orang-orang seperti Fahmi akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni semegah itu ? Fahmi tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Fahmi yang juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.

Saya sangat memaklumi perasaan Fahmi. Sebab bagi orang yang tidak mampu, pembicaraan tentang kelimpahan materi di antara teman yang sukses hanya akan melukai perasannya. Fahmi mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih, jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan, sementara dia serba berkekurangan ?

Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi, hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk, atau terkendala jarak yang jauh. Namun melihat Fahmi, saya jadi berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki alasan yang sama dengan Fahmi : merasa malu menghadiri reuni karena miskin.

Seharusnya persahabatan tidak terhalang status sosial
Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar teman-teman saya tidak berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses dari segi materi dan status sosial di masyarakat. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan kekayaannya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang kesusahan.

Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, harta sama sekali bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya sementara.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang paling penting sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.

Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni karena faktor ketiadaan harta, percayalah bahwa sebagian terbesar dari kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya karena ketiadaan harta, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu, kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya. Selebihnya, tak penting lagi.


Salam sayang, Anni ( yang sering malas menghadiri Reuni )

Posting Lama